Bagikan Artikel Ini:
80 / 100 SEO Score

Kebutuhan dan layanan kesehatan bagi wanita selayaknya menjadi salah satu prioritas utama pemerintah maupun masyarakat, termasuk di Indonesia. Hingga saat ini, dengan kondisi sistem layanan kesehatan yang terdesentralisasi, pemerintah Indonesia terus-menerus berupaya untuk membuat sistem layanan kesehatan wanita lebih efisien.

Dalam ulasan berikut ini, Anda bisa simak tentang apa pentingnya kesehatan untuk wanita secara umum, hingga beragam penyakit serta tantangan kesehatan yang umum ditemukan pada wanita.

 

Kesehatan dan Wanita

 

Wanita, yang merupakan kunci dalam menjaga kesehatan keluarga, dalam realitanya mengakses sistem kesehatan lebih sering daripada pria, baik untuk diri sendiri maupun untuk anak dan keluarga. Di samping itu, banyak pula wanita yang mengandung dan melahirkan, dan kemudian menjadi perawat utama anak – keduanya menunjukkan bahwa dari sebuah peristiwa kesehatan, timbul peran yang sangat memengaruhi kesehatan rumah tangga.

Di samping itu, penelitian juga menunjukkan bahwa beragam masalah kesehatan jangka panjang juga lebih sering menimpa wanita. Hal tersebut dikarenakan wanita yang cenderung hidup lebih lama daripada pria. Wanita pun memiliki risiko masalah kesehatan kronis dan disabilitas serta tinggi, namun memiliki pendapatan rata-rata yang lebih rendah daripada pria. Karena alasan ini pula wanita lebih bergantung pada bantuan dari pemerintah maupun sosial, termasuk bantuan kesehatan.

Sepanjang masa hidupnya, status kesehatan seorang wanita penting bukan hanya dirinya sendiri, tapi juga keluarga dan bahkan negara. Karena itu, apabila kesehatan wanita diabaikan atau dipandang sebelah mata dalam urusan perumusan kebijakan sistem kesehatan negara, artinya pemerintah sama saja kehilangan peluang penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat serta untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih sehat.

 

Penyakit dan Tantangan Kesehatan yang Umum pada Wanita

 

Para wanita – bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia – memiliki tantangan terkait dengan aspek kesehatan yang berbeda, dan cenderung didiagnosis dengan penyakit-penyakit tertentu dibandingkan pria. Beragam penyakit dan kondisi kronis seperti sakit jantung, kanker, dan diabetes merupakan penyebab utama kematian pada wanita.

Nyaris setengah populasi orang dewasa di dunia memiliki penyakit kronis, dan sebagian dari angka tersebut memiliki dua masalah kronis lainnya, atau malah lebih. Lebih lanjut lagi, data menunjukkan bahwa 38% wanita menderita satu penyakit kronis, atau lebih – sementara itu, persentase untuk pria adalah 30%. Padahal, penanganan dan perawatan penyakit kronis seringkali sulit bagi masyarakat yang tidak terlindungi, dan wanita cenderung tidak memiliki asuransi.

 

  1. Penyakit jantung.

 

Sakit jantung rupanya merupakan penyebab utama kematian pada wanita. Dibandingkan pria, wanita cenderung memiliki gejala-gejala serangan jantung yang lebih samar, seperti kepala yang terasa ringan, kelelahan, dan rasa sakit pada abdomen bagian atas. Bahkan, gejala penyakit jantung yang dialami wanita berbeda dengan yang dialami pria, sehingga lebih sulit untuk didiagnosis dan diobati. Malah, tak jarang gejala penyakit jantung pada wanita disalahartikan sebagai gejala penyakit lain, misalnya maag.

Risiko penyakit ini pun tetap mengikuti setelah wanita memasuki masa menopause. Penyebabnya adalah penurunan hormon estrogen, yang salah satu fungsinya adalah untuk melindungi dan memperkuat jantung. Belum lagi jika terdapat tumpukan plak di dalam pembuluh darah, dan peningkatan faktor risiko beragam penyakit lainnya seiring dengan bertambahnya usia.

Selain itu, ada pula faktor risiko non-tradisional penyakit jantung yang hanya dialami oleh wanita: kehamilan. Pasalnya, ketika seorang wanita hamil, tubuh secara alami akan meningkatkan produksi darah menjadi dua kali lipat. Hal tersebut bisa melipatgandakan risiko penyakit jantung, terutama apabila wanita hamil juga sudah memiliki kelainan jantung bawaan atau menderita faktor risiko sakit jantung lainnya, seperti diabetes atau hipertensi. Belum lagi, kehamilan mampu mengakibatkan stress fisik, yang memaksa jantung bekerja lebih keras.

 

  1. Kanker.

purple cells

Photo by National Cancer Institute on Unsplash

 

Kanker juga merupakan salah satu penyakit yang mengancam wanita sehat, termasuk di Indonesia. Bahkan, di Indonesia sendiri sudah tercatat ada dua jenis kanker yang paling banyak diderita wanita di sini, yaitu kanker payudara dan kanker serviks (leher rahim).

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI per 31 Januari 2019, tercatat bahwa angka kejadian payudara di Indonesia adalah 42,1 per 100.000 penduduk, dan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka kejadian kanker serviks adalah 23,4 per 100.000 penduduk, dan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Beragam langkah telah ditempuh sebagai upaya untuk mencegah dan mengendalikan kanker di Indonesia, termasuk kanker payudara dan kanker serviks yang menyerang wanita. Salah satunya adalah deteksi dini bagi para wanita sejak usia 30 tahun. Metode yang dilakukan adalah Pemeriksaan Payidara Klinis (SADANIS) untuk deteksi kanker payudara, dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk deteksi kanker serviks.

 

  1. Diabetes.

 

Ada beberapa faktor mengapa wanita lebih berisiko terserang diabetes dibandingkan pria. Salah satunya adalah resistensi insulin, atau insulin resistance. Di dalam tubuh wanita, salah satu komponen dari resistensi insulin akan meningkat ketika wanita tengah mengandung. Karena alasan inilah wanita hamil lebih rentan terserang diabetes.

Komponen resistensi insulin tersebut dapat terpicu oleh fisik wanita hamil yang tidak aktif selama periode kehamilan. Belum lagi jika wanita hamil juga tidak menjaga pola makannya dan memang sudah memiliki masalah dengan kelebihan berat badan atau obesitas sejak awal. Semua faktor tersebut mengakibatkan zat AMPK tidak bekerja, alias AMP-activated protein kinase. Padahal, zat tersebut dibutuhkan agar insulin dapat berfungsi dengan lebih baik.

 

  1. Depresi.

grayscale photo of woman crying holding her right chest

Photo by Kat J on Unsplash

 

Penelitian menunjukkan bahwa wanita berisiko mengalami depresi dua kali lebih besar dibandingkan pria. Kondisi ini akan menimpa satu dari lima wanita sepanjang hidupnya, terutama pada kisaran usia 40 sampai 59 tahun. Seiring perkembangan waktu, angka tersebut cenderung mengalami peningkatan. Apalagi, faktor pemicu depresi bisa muncul dari mana saja. Mulai dari faktor genetik, perubahan hormon (pubertas, menstruasi), kehamilan, pre-menopause atau jelang menopause, hingga faktor lingkungan, termasuk media sosial. Karena alasan inilah pentingnya kesehatan mental bagi wanita juga perlu jadi fokus utama.

 

  1. Osteoporosis.

 

Dibandingkan pria, wanita lebih rentan terserang osteoporosis. Data terakhir dari International Osteoporosis Federation bahkan menunjukkan bahwa satu dari empat wanita di Indonesia mengalami penyakit pengeroposan tulang ini. Data lain dari Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) bahkan juga menyebutkan bahwa 32,3% wanita di Indonesia mengalami penyakit ini – sementara itu, persentase pria penderita osteoporosis adalah 28,8%.

Mirip dengan penyebab penyakit jantung pada wanita di usia menopause, osteoporosis pada wanita juga dikarenakan oleh penurunan produksi hormon estrogen, terutama seiring dengan bertambahnya usia. Pasalnya, selain mengatur siklus reproduksi, hormon estrogen juga berperan besar menjaga agar tulang selalu sehat dan kuat.

Di samping itu, secara alami tulang wanita memang lebih tipis dan kecil dibandingkan tulang pria. Ketika diikuti dengan penurunan produksi estrogen, risiko penurunan kepadatan tulang juga mengintai. Apalagi jika seorang wanita memiliki beberapa kebiasaan seperti merokok, konsumsi minuman beralkohol, atau konsumsi obat-obatan penyebab berkurangnya kepadatan tulang. Selain itu, risiko osteoporosis juga lebih besar apabila seorang wanita mengalami kekurangan kalsium.

  1. Alzheimer.

 

woman sitting on wheelchair

Photo by Steven HWG on Unsplash

Penyakit Alzheimer juga merupakan salah satu risiko masalah kesehatan yang mengintai wanita, bahkan dengan jumlah kasus yang lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria. Sebelumnya, penyebab dari kondisi ini disinyalir adalah angka harapan hidup wanita yang lebih tinggi daripada pria. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan temuan lain yang menghubungkan risiko Alzheimer yang lebih tinggi pada wanita.

Temuan tersebut berkaitan dengan perbedaan konektivitas otak dan gen yang spesifik dimiliki oleh jenis kelamin tertentu. Pada wanita, peneliti menemukan bahwa terdapat konektivitas yang lebih baik pada sebuah bagian otak tertentu, di mana tumpukan protein (alias tau) dan amiloid terjadi. Sebagai informasi tambahan, penumpukan tau dan amiloid tersebut merupakan salah satu ciri utama penyakit Alzheimer.

Karena konektivitas pada bagian otak tersebut yang lebih baik, risiko tersebarnya protein tau juga jadi lebih cepat. Cepat atau lambat, kemampuan kognitif wanita penderita kondisi ini pun menurun. Penelitian ini bahkan menunjukkan perbedaan jenis kelamin dan pengaruhnya terhadap perbedaan risiko Alzheimer pada pria dan wanita. 

 

  1. Masalah reproduksi.

 

Berbicara soal kesehatan wanita, pasti tak bisa lepas dari kesehatan reproduksi, yang juga berkaitan dengan seksualitas tubuhnya. Dan perlu dicatat bahwa seksualitas tidak sekadar dorongan naluri maupun kebutuhan biologis, namun juga merupakan wujud interaksi yang bersifat relasional.

Sayangnya, hingga saat ini masih belum banyak wanita yang mengetahui dan menyadari haknya yang berkaitan dengan fungsi reproduksi mereka. Pasalnya, topik ini masih sangat langka untuk dibahas. Bahkan, fungsi reproduksi wanita dikecilkan perannya hanya pada ranah domestik, sehingga membuat fungsi reproduksi tersebut seolah merupakan sebuah kewajiban – menjadi istri dan ibu, wajib mengurus dan mendidik anak serta rumah tangga, serta wajib mendampingi dan melayani suami. Lebih jauh lagi, bisa dibilang bahwa lebih mudah bagi wanita kebanyakan untuk menuliskan apa yang jadi kewajiban dibandingkan apa yang jadi haknya.

Hal yang sama pun berlaku dalam aspek kesehatan reproduksi wanita. Masih banyak wanita yang beranggapan bahwa kesehatan merupakan hal-hal yang berhubungan dengan organ tubuh. Padahal, kesehatan merupakan sebuah topik yang sangat luas.

Apabila pembangunan kesehatan benar-benar ditujukan untuk meninggikan derajat kesehatan, wanita sebagai pihak yang juga menerima layanan kesehatan juga harus berperan di dalam ranah keluarga agar anak bisa tumbuh sehat hingga dewasa. Karena itu, kesehatan wanita, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perlu jadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan dan sistem kesehatan di Indonesia karena sangat berpengaruh pada kesehatan anak.

Kesehatan reproduksi sendiri secara internasional didefinisikan bukan hanya sebagai kesehatan organ reproduksi, melainkan sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, hingga sosial yang utuh, terkait segala hal yang berhubungan dengan sistem, fungsi, serta sistem reproduksi. Lebih jauh lagi, aspek kesehatan reproduksi juga menyinggung hak produksi yang berlandaskan pada pengakuan HAM manusia untuk setiap individu maupun pasangan dalam menentukan secara bebas serta bertanggung jawab tentang jumlah dan kelahiran anak.

Dengan demikian, bisa disimpulkan sekali lagi bahwa kesehatan reproduksi mencakup berbagai aspek. Karena itu, sudah selayaknya bahwa masalah reproduksi wanita juga disikapi dengan sistem pelayanan kesehatan yang menyeluruh. Seperti dengan memadukan KB, layanan kehamilan dan persalinan bagi ibu yang aman, pendidikan serta konseling seksualitas, pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi menular seksual (IMS), penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan seluruh aspek pelayanan kesehatan mendasar lainnya bagi wanita.

 

 

Penyakit apa saja yang umum terjadi pada wanita?

penyakit jantung, kanker, diabetes, depresi, osteoporosis, alzheimer, masalah reproduksi.

Kenapa kesehatan wanita sangat dikhawatirkan daripada laki-laki?

Penelitian menunjukkan bahwa beragam masalah kesehatan jangka panjang juga lebih sering menimpa wanita. Hal tersebut dikarenakan wanita yang cenderung hidup lebih lama daripada pria. Wanita pun memiliki risiko masalah kesehatan kronis dan disabilitas serta tinggi, namun memiliki pendapatan rata-rata yang lebih rendah daripada pria.

Apa pengertian kesehatan reproduksi secara internasional?

Kesehatan reproduksi secara internasional didefinisikan bukan hanya sebagai kesehatan organ reproduksi, melainkan sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, hingga sosial yang utuh, terkait segala hal yang berhubungan dengan sistem, fungsi, serta sistem reproduksi. Lebih jauh lagi, aspek kesehatan reproduksi juga menyinggung hak produksi yang berlandaskan pada pengakuan HAM manusia untuk setiap individu maupun pasangan dalam menentukan secara bebas serta bertanggung jawab tentang jumlah dan kelahiran anak.