Kanker hingga Kolestrol Ambrol, Cukup dengan Rutin Minum Susu Kedelai – FAJAR

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Selain rasanya yang enak, susu kedelai juga memiliki berbagai manfaat yang baik untuk tubuh.Susu kedelai adalah minuman yang kaya nutrisi. Ia...

Usai Bercinta, Pasutri Jangan Langsung Mandi, Sangat Penting Lakukan Ini – FAJAR

FAJAR.CO.ID — Seksolog dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS mengingatkan pasangan suami istri (pasutri) agar tidak langsung membersihkan diri setelah bermain cinta.Pesohor asal...

Pinkprint Team, Girlband Seksi Ala The Pussycat Dolls dari Bali

Pinkprint Team sendiri merupakan girlband yang berada di bawah naungan Splendid Asia dan diproduseri oleh KC itu memang cenderung berkonsep seksi. Ranahnya mengarah ke...

Arawinda Kirana, Aktivis yang Pernah Tertolak

Ara –sapaan akrab Arawinda Kirana– terbilang baru di industri perfilman. Sebelum Yuni, aktris yang terjun ke dunia seni peran dan tari sejak usia 6...

Suami Wajib Tahu! Ini Sejumlah Fakta Seputar Puncak Kepuasan Wanita – FAJAR

Minggu, 17 Oktober 2021 16:14 fajarNEWS Muhammad Nursam ...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Masalah gizi kurang masih menjadi perhatian utama di berbagai negara, terutama pada kelompok balita. Padahal, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.

Sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Dampak yang ditimbulkan stunting cukup memprihatinkan dan dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek dapat terjadi peningkatan kejadian kesakitan dan kematian, terhambatnya perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal yang dapat meningkatkan biaya kesehatan.

Sedangkan untuk dampak jangka panjang yang dapat terjadi yaitu postur tubuh anak stunting yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya, dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit lainnya, menurunnya kesehatan reproduksi, performa dan kualitas belajar yang kurang optimal saat masa sekolah sehingga melahirkan manusia yang kurang produktif dan kapasitas kerja yang tidak optimal.

Menurut data Riskesdas, presentasi prevalensi stunting di Indonesia : yakni pada tahun 2007 sekitar 36,8%, dan menurun pada tahun 2010 berjumlah 34,6%. Pada tahun 2013 angka stunting kembali meningkat yakni 37,2% dan kembali turun pada tahun 2018 yakni 30,8% serta mencapai 27,7% di tahun 2020 dan adanya target percepatan penurunan angka stunting mencapai 14% di tahun 2024.


Kredit: Tautan sumber

- A word from our sposor -

Stunting pada Anak Memprihatinkan, Tingkatkan Risiko Obesitas dan Penyakit Lain – FAJAR 1

Stunting pada Anak Memprihatinkan, Tingkatkan Risiko Obesitas dan Penyakit Lain – FAJAR

\