LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Dede Yusuf dulu lebih dikenal karena malang melintang sebagai aktor dan presenter kuis Tak Tik Boom. Kini, setelah menjadi pejabat publik, dia masih kerap mengamalkan apa yang dipelajarinya selama membawakan acara. Jawa Pos sempat berbincang dengan wakil ketua Komisi IX DPR tersebut pada Selasa (2/3).

Sebagai mantan presenter, apakah ada ilmu-ilmu presenting yang berguna dan diterapkan hingga sekarang?

Background saya adalah seorang aktor, kemudian bergerak menjadi seorang presenter. Tentu ada beberapa privilese. Sebuah keuntungan bagi saya dalam meniti karir.

Seperti apa misalnya?

Misalnya, kemampuan menampilkan diri dan komunikasi publik. Karena presenter itu berarti presenting, kita harus mampu memainkan kata-kata, berbicara di depan publik, menyenangkan publik, dan membaca mood atau aura publik. Sebab, dalam menyampaikan message (pesan, Red), kita harus paham kapan pesan itu disampaikan dengan tepat. Kapan harus masuk pada esensi, kapan harus breaking the ice atau mencairkan suasana. Sekian belas tahun saya belajar, itu menjadi dasar saya dalam membantu karir.

Bagaimana dengan akting?

Akting sebagai seorang aktor juga saya pikir sangat membantu untuk bisa mempersepsikan apa yang kita ingin dari (penyampaian) message tersebut. Jadi, bisa kita bayangkan, kita ingin memberikan pesan mengenai Covid-19, tapi mukanya cengangas-cengenges. Kan tidak bagus. Jadi, saya pikir, basic inilah yang menjadi keuntungan bagi saya dalam berkarir di kemudian hari.

Bedanya apa ketika menjadi presenter, aktor, dan pejabat publik?

Di dalam presenting itu kan ada yang kita pelajari. Misalnya, body language atau pembawaan tubuh, lalu emphasizing atau penekanan, kemudian afirmasi dan informasi. Saya harus mampu membaca audiens. Audiens ini kan beragam, kalau press conference seperti apa, company profile seperti apa, itu semua beda-beda cara menyampaikannya. Komunikasi publik waktu itu masih bersifat kepada audiens yang hadir. Nah, di dalam politik, kita tidak lagi berbicara tentang audiens yang hadir. Kita berbicara tentang message yang disampaikan melalui media massa karena media massa itulah yang akan mengutip statement kita, narasi kita, dengan tambahan narasi dari jurnalis itu sendiri.

Saat menjadi pejabat, bagaimana agar pesan itu lebih sampai?

Karena itulah, kita tidak bisa lagi spesifik. Misalnya, spesifik untuk remaja. Kita harus lebih luas lagi menyampaikan informasi tersebut dan yang kita masukkan adalah nilai-nilai. Pejabat publik harus bisa memahami bahwa kalimat yang keluar darinya akan menjadi milik ranah publik. Kalimat yang keluar tadi bisa saja ditekuk-tekuk orang yang tidak bertanggung jawab. Makanya, kita harus berhati-hati sekali ketika menyampaikan informasi supaya tidak sepotong-sepotong.

Apakah sekarang masih sesekali membawakan acara di forum-forum kecil?

Kalau jadi presenter dalam forum udah nggak ya, saya lebih banyak sebagai speaker forum-forum seperti forum kampus, seminar, dan diskusi-diskusi publik. Saya lebih banyak menyampaikan gagasan sebagai narasumber.

Dulu Anda juga dikenal sering bekerja sama dengan Ibu Ani Sumadi dalam acara kuis. Bagaimana silaturahmi dengan beliau sekarang?

Memang saya cukup lama mengenal Ibu Ani Sumadi. Sekitar 10 tahun saya bekerja sama dengan beliau untuk kuis-kuis. Kebetulan, beliau ini adalah teman baik ibu saya. Jadi, kami dulu sering berkunjung ke rumahnya, terus ngobrol bersama keluarganya. Tapi, ketika sudah bertugas di Jawa Barat, saya praktis jarang ke Jakarta dan sudah jarang ketemu. Ketemunya pun di acara-acara kondangan, misalnya. Silaturahmi yang sifatnya lebih kepada umum saja.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 


Kredit: Tautan sumber

- A word from our sposor -

Dede Yusuf Belajar Presenter Dulu, Jago Komunikasi Publik Kemudian 1

Dede Yusuf Belajar Presenter Dulu, Jago Komunikasi Publik Kemudian

\