LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Proses rekrutmen karyawan seringkali memakan waktu yang lama. Apalagi jika perusahaan Anda berskala besar dan namanya sudah masyhur di mana-mana.

Namun, sebaiknya waktu yang tidak singkat itu Anda manfaatkan untuk mencari kandidat yang paling tepat agar posisi tersebut diisi oleh ahlinya. Terlepas dari proses rekrutmen tersebut, ada beberapa kesalahan umum yang dilakukan HRD ketika memilih kandidat.

Meskipun awalnya terkesan sepele, salah pilih kandidat akan menjadi petaka di masa depan. Lalu apa saja, sih, kesalahan yang sering muncul? Adakah strategi untuk menghindarinya?

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Proses Rekrutmen

Rekrutmen Karyawan - duniawanita.id
Photo by Unsplash

Mulai dari konsep “ideal” yang tidak jelas hingga merekrut karena asas pertemanan, masih ada beberapa hal fatal lain yang sering terjadi ketika proses pencarian karyawan berlangsung. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan berikut, Anda akan menemukan orang yang tepat untuk posisi yang sedang terbuka.

1. Tidak Tahu Apa yang Dicari

Kesalahan saat merekrut pertama dan yang paling sering terjadi adalah karena HRD tidak cukup mengetahui kriteria apa yang dicari. Rekrutmen tidak bisa terjadi begitu saja tanpa adanya pengetahuan seputar kebutuhan.

Misalnya, Anda perlu tahu apakah perusahaan membutuhkan pekerja freelance atau full-time. Departemen apa yang sedang membutuhkan tenaga baru? Keahlian apa saja yang akan membantu perusahaan mencapai target?

Hal-hal di atas hanya beberapa dan banyak faktor lain yang perlu Anda pelajari sebelum membuka lowongan.

2. Kurang Persiapan Anggaran

Kesalahan berikutnya yang mungkin terjadi adalah perhitungan anggaran yang meleset. Sebab, proses rekrutmen pun perlu anggaran dana yang jelas, lho.

Hal ini sebenarnya lebih menggarisbawahi tentang seberapa besar perusahaan berani menawarkan rentang gaji kepada calon karyawan. Jangan sampai anggaran yang sudah ada malah tidak cukup untuk membayar pekerja penuh waktu.

Selain gaji pokok untuk karyawan penuh waktu, ada pula beberapa tunjangan penting dalam anggaran, seperti THR, asuransi kesehatan, dan keuntungan lainnya.

Apabila anggaran yang ada terlihat belum memungkinkan untuk menggaji karyawan tetap, Anda bisa membayar freelance atau membuka lowongan internship saja.

3. Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Baik Anda melakukan rekrutmen online maupun secara manual, jatuh cinta pada pandangan pertama sepertinya bukan ide yang bagus. Tentu saja, kesempurnaan itu tidak ada. Namun bukan berarti Anda lantas buru-buru menerima siapapun yang masuk duluan, bukan?

Terlalu buru-buru dalam merekrut akan membuat Anda kerja dua kali, belum lagi jika Anda ternyata salah pilih. Oleh karena itu, ada baiknya jika tes rekrutmen memiliki tahapan yang teliti, sehingga penyaringan akan terasa lebih realistis.

Jangan ragu untuk melakukan wawancara hingga dua kali atau memberikan tes keahlian lainnya untuk menggali informasi penting tentang calon karyawan.

4. Mencari Kesempurnaan

Meskipun terburu-buru dalam proses rekrutmen akan berubah menjadi petaka bagi perusahaan Anda, namun terus-terusan menunggu dan mencari kesempurnaan datang juga bukan hal yang baik.

Katakanlah Anda punya gambaran tentang karyawan ideal. Tapi tanyakan lagi, apakah gambaran tersebut realistis? Akankah waktu yang Anda habiskan untuk menunggu karyawan ideal itu tidak akan mempengaruhi produktivitas?

Daripada menunggu kandidat sempurna untuk mengisi posisi tersebut, sebaiknya Anda menerima kandidat terbaik yang memenuhi semua syarat dan kualifikasi. Bukan tidak mungkin kalau kandidat tersebut akan menjadi karyawan ideal seiring berjalannya waktu.

5. Merekrut karena Kenalan

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan merekrut seseorang yang Anda kenal, atau bahkan keluarga sekalipun. Tapi jangan lupa akan kebutuhan yang sedang Anda cari.

Pastikan kenalan atau saudara yang berada di bawah proses rekrutmen Anda memiliki kualifikasi yang perusahaan butuhkan.

Namun apabila Anda hanya membawa nama “kenalan” ketika merekrut tanpa melihat referensi dan latar belakangnya, ini seperti membeli kucing dalam karung. Bukan hanya mendapatkan sesuatu yang belum jelas keadaannya, namun juga bisa mempengaruhi masa depan perusahaan Anda.

6. Tidak Mengecek Latar Belakang

Katakanlah Anda menemukan kandidat yang sangat sesuai dan cukup ideal untuk posisi yang ada. Kemudian Anda tidak merasa perlu mengecek latar belakang lainnya.

Hal tersebut sebaiknya Anda hindari. Bisa saja kandidat tersebut dipecat dari tempat kerja yang lama karena suatu kasus. Bagaimana apabila hal tersebut juga terjadi saat sudah menjadi karyawan di perusahaan Anda?

Makanya, akan lebih baik jika semua proses seleksi dilakukan secara detail dan teliti. Satu kesalahan kecil mungkin bisa menjadi hal yang fatal di kemudian hari, baik Anda sedang mencari kandidat untuk kerja dari rumah maupun work from office (WFO).

7. Aturan Rekrutmen Kurang Tegas

Proses rekrutmen juga sebaiknya dilakukan berdasarkan aturan yang jelas dan tegas. Hindari memberi kelonggaran bagi calon karyawan yang sedang melamar pekerjaan.

Misalnya, memberi kelonggaran berupa menerima lulusan dari jurusan lain yang tidak sesuai kriteria hanya karena menganggap semua itu berasal dari rumpun yang sama. Padahal konsepnya tidak seperti itu. Setiap lulusan dari suatu jurusan memiliki pemahaman akan suatu bidang dan topik yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, sebaiknya jangan terlalu berimprovisasi, apalagi untuk sesuatu yang substansial seperti ini.

8. Pencarian Terlalu Sempit

Salah satu kesalahan yang juga sering terjadi ketika proses rekrutmen adalah bias dan diskriminasi dari HR sendiri. Bisa jadi hal itu tidak sengaja, namun nantinya akan menyulitkan proses mencari kandidat yang tepat.

Misalnya, HR lebih memilih karyawan pria karena dinilai lebih fokus dan berdedikasi daripada wanita. Lalu bagaimana jika ada wanita yang berhasil mematahkan hal itu? Tentu akan merugikan perusahaan, bukan?

Tidak hanya gender, bias dan diskriminasi bisa juga terjadi pada usia, suku bangsa, agama, dan lain sebagainya.

9. Tidak Mempertimbangkan Budaya Perusahaan

Ketika perusahaan merekrut banyak karyawan dalam satu waktu, pasti perubahan budaya di tempat kerja bisa terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, sebagai HR Anda sebaiknya sudah mempersiapkan berbagai hal, termasuk culture shock.

Misalnya, top talent yang punya kemungkinan untuk meninggalkan perusahaan dalam hitungan waktu yang cepat, lho. Sebaiknya Anda tidak kaget dengan hal ini.

Perubahan yang semacam ini lebih rentan terjadi di perusahaan startup. Apabila perubahan besar terjadi, bukan tidak mungkin bila karyawan lain mencari kenyamanan dalam bekerja dan berkarya di tempat lain.

10. Deskripsi Pekerjaan Tidak Jelas

Agar mendapatkan kandidat yang berkualitas, informasi tentang suatu lapangan pekerjaan sebaiknya dibuat sejelas mungkin. Tidak hanya judul dan posisi, Anda juga perlu mencantumkan tanggung jawab dari posisi tersebut.

Dengan begitu, baik perusahaan maupun kandidat memiliki pemahaman yang sama dalam perekrutan kali ini.

Namun sayangnya, masih banyak perusahaan yang tidak memberikan informasi lengkap dan terperinci mengenai deskripsi pekerjaan. Selain akan membingungkan untuk kandidat yang melamar, nantinya setelah mulai bekerja, karyawan tersebut akan bingung.

Maka dari itu, ketika menuliskan job description, sebaiknya Anda benar-benar mencantumkan setiap poin dengan gamblang.

11. Hanya Mengandalkan Wawancara

Wawancara bisa jadi salah satu alat yang kuat untuk mengetahui kualitas seseorang in person. Namun ada beberapa orang yang jago dalam bekerja namun tidak pede ketika berbicara.

Pada akhirnya, terlalu banyak wawancara hanya akan buang-buang waktu, menurut Laszlo Block seorang pentolan Google. Apabila wawancara hanya Anda gunakan untuk mengkonfirmasi suatu kesan dari seorang kandidat, sebaiknya Anda tidak membuang waktu lebih banyak lagi.

Lagi pula, seseorang bisa saja melakukan apapun, apalagi hanya merangkai kata, untuk mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, sebaiknya Anda juga mempersiapkan tes keahlian yang sesuai dengan bidang pekerjaan.

Ditambah work from home (WFH) ini akan lebih banyak membuat orang berada di rumah, sehingga tes kemampuan bidang dan psikotes akan jauh lebih berarti daripada sebatas wawancara.

12. Menolak Kandidat dengan Kualifikasi Tinggi

Proses rekrutmen yang dilakukan di tengah pandemi memungkinkan Anda menemukan beberapa pelamar yang overqualified sebab siapa saja akan membutuhkan pekerjaan saat pandemi.

Namun Anda memilih untuk menolak kandidat overqualified karena takut kalau kandidat akan bosan dan merasa kurang tertantang dengan job description dari perusahaan Anda. Ini adalah kesalahan yang cukup merugikan perusahaan di masa mendatang.

Bisa jadi pelamar yang kualifikasinya melebihi kebutuhan bisa memberikan insight baru di perusahaan. Bahkan mungkin juga keterampilannya akan berimbas baik terhadap bisnis Anda, meskipun katakanlah kandidat ini hanya bertahan sebentar.

Lagi pula kalau Anda memang begitu khawatirnya, Anda bisa memikirkan bentuk reward yang mungkin bisa membuat karyawan tersebut tetap tinggal dan loyal terhadap perusahaan.

13. Menerima yang Kurang Berkualifikasi

Jangan karena Anda merasa insecure dengan posisi Anda di perusahaan lantas menerima kandidat yang sebenarnya kurang berkualifikasi. Tidak ada yang salah apabila ada karyawan perusahaan yang lebih cakap dalam mengerjakan tugas.

Keberadaan karyawan seperti itu malah akan membawa perubahan positif pada perusahaan Anda. Sedangkan jika Anda terlalu tidak percaya diri dan malah menerima kandidat yang kurang cakap, apa yang akan terjadi dengan perusahaan?

Manajer yang cerdas selalu membutuhkan karyawan yang cakap dan mengerti apa yang mereka kerjakan. Di sisi lain, Anda juga bisa selalu upgrade ilmu daripada merasa insecure tidak jelas seperti itu.

Beberapa hal di atas adalah poin-poin kesalahan yang terjadi ketika melakukan rekrutmen. Meskipun beberapa di antaranya bisa diminimalisir, rekrutmen secara manual selalu menyisakan gap yang luas.

Maka dari itu, kenapa Anda tidak mencoba menggunakan platform lowongan kerja terpercaya? Kandidat.id, misalnya, yang menyediakan aplikasi dan website untuk para pencari dan pemberi kerja agar saling berinteraksi.

Sederhanakan Proses Rekrutmen Karyawan di Perusahaan Anda dengan Kandidat.id

Rekrutmen Karyawan - duniawanita.id
Photo by Unsplash

Mengingat manusia adalah makhluk yang bisa saja salah dan lelah, akan lebih baik jika Anda memanfaatkan teknologi dari kandidat.id. Platform job portal berisi beragam lowongan kerja ini tidak hanya memberikan ruang untuk pencari kerja namun juga pemberi kerja.

Tidak hanya proses yang jauh lebih simpel dan cepat, sebagai pemberi kerja Anda bisa menikmati beberapa keuntungan lainnya dengan menggunakan kandidat.id yaitu:

● Bertemu dengan bakat-bakat terbaik sesuai kebutuhan.

● Sistem tracking yang mudah pengelolaannya.

Call center yang aktif 24/7 dan konsultan profesional siap membantu.

Semua dokumen yang Anda perlukan terkait dengan proses rekrutmen dapat Anda akses secara online dan mudah.

Nikmati kelebihan lainnya dengan langsung mendaftar di website kandidat.id. Segera bergabung dengan kandidat.id dan hindari kesalahan-kesalahan selama proses rekrutmen karyawan, seperti penjelasan di atas!

 

Related posts:

Kampus Terbaik Jurusan Teknik Informatika dan Ilmu Komputer – UBSI

 

UU tenaga kerja | pasang lowongan kerja gratis | pasang loker gratis | pasang lowongan kerja | iklan lowongan kerja | posting lowongan kerja | lapangan pekerjaan | program magang | pasang iklan lowongan kerja | rekrutmen karyawan

Apa saja kesalahan saat merekrut karyawan?

Kesalahan merekrut pertama dan yang paling sering terjadi adalah ketidaktahuan HRD tentang apa yang dicari. Rekrutmen tidak bisa terjadi begitu saja tanpa adanya pengetahuan seputar kebutuhan. Kemudian, kurang anggaran. Apabila anggaran yang ada terlihat belum memungkinkan untuk menggaji karyawan tetap, Anda bisa membayar freelance atau membuka lowongan internship saja. Terakhir, jatuh cinta pada pandangan pertama. Terlalu buru-buru dalam merekrut akan membuat Anda kerja dua kali, belum lagi jika Anda ternyata salah pilih. Oleh karena itu, ada baiknya jika tes rekrutmen memiliki tahapan sehingga penyaringan akan terasa lebih realistis.

Apa saja keuntungan jika menggunakan kandidat.id sebagai bagian dari proses rekrutmen?

Pertama, bertemu dengan bakat-bakat terbaik sesuai kebutuhan. Selanjutnya, sistem tracking yang mudah pengelolaannya. Dan yang terakhir, call center yang aktif 24/7 dan konsultan profesional siap membantu.

Mengapa saat proses rekrutmen harus mempertimbangkan budaya perusahaan?

Ketika perusahaan merekrut banyak karyawan dalam satu waktu, pasti perubahan budaya di tempat kerja bisa terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, sebagai HR Anda sebaiknya sudah mempersiapkan berbagai hal, termasuk culture shock. Perubahan yang semacam ini lebih rentan terjadi di perusahaan startup. Apabila perubahan besar terjadi, bukan tidak mungkin bila karyawan lain mencari kenyamanan dalam bekerja dan berkarya di tempat lain.

 

PT. META INTERMEDIA TEKNOLOGI

JL. INTI 1 BLOK C 1 NO. 7, LIPPO CIKARANG, BEKASI JAWA BARAT 17550 +6218990 5868 [email protected]

- A word from our sposor -

Hindari Kesalahan Ini Saat Proses Rekrutmen Karyawan di Kandidat.id 1

Hindari Kesalahan Ini Saat Proses Rekrutmen Karyawan di Kandidat.id

\